United Colour of Freedom

Merdeka!!! kah kita? (c) galih sedayu

MERDEKA!!! kah kita?

Sementara kita masih melihat masih ada yang merampas uang rakyat

MERDEKA!!! kah kita?

Sementara kita masih melihat masih ada yang menganga kelaparan

MERDEKA!!! kah kita?

Sementara kita masih melihat masih ada yang bodoh dan mau diperalat

MERDEKA!!! kah kita?

Sementara kita masih melihat masih ada yang tidak sekolah

MERDEKA!!! kah kita?

Sementara kita masih melihat masih ada yang merasa jadi pemimpin hebat

MERDEKA!!! kah kita?

Sementara kita masih melihat masih ada yang tidak merdeka

Selamat Memperjuangkan Merdeka Untuk Bangsa Indonesia.

17 Agustus 2010

Mumu…a mime

(c) galih sedayu

Mumu is one of creative young man from bandung. He become a mime performer to make living. I took this shoot while preparing some presentation in pos indonesia building. I also bring him to my presentation and let him to make some pantomime attraction in front of my clients.

“Leather Speak”, Photo Story of Gelar Kriya Kulit Jabar

LEATHER SPEAK

a photo story about leather issue from “gelar kriya kulit jabar”

teks & foto oleh galih sedayu

Sudah sepatutnyalah kita bangga terhadap bangsa indonesia karena alam kita banyak sekali menyediakan segala hal yang dapat menopang kehidupan umat manusia. Bahan kulit yang diambil dari hewan-hewan asal indonesia seperti kuda, kambing, ikan pari, ular & buaya dapat menjadi sebuah produk yang unggul dan memiliki kualitas ekspor ke manca negara. Banyak sekali produk kulit bangsa kita yang diminati oleh bangsa lain. Sebut saja dompet, sepatu, tas & sabuk kulit. Intinya, bangsa kita bukan tidak mampu bersaing dalam hal pemanfaatan kulit sebagai salah satu produk kreatif yang telah menjadi industri.

Pada tanggal 7-8 agustus 2010, arena kultural bekerjasama dengan dinas perindustrian & perdagangan jabar menggelar acara yang bertajuk “Gelar Kriya Kulit Jabar”, yaitu sebuah upaya untuk memperkenalkan hasil produk kulit jabar melalui sebuah kemasan art &  festival. Di dalamnya terdapat beberapa program yang bertujuan untuk mengkomunikasikan kulit melalui musik, karnaval, talk show kreatif, fashion, dan lain sebagainya.

Fotografi pun kemudian menjadi pilihan saya untuk menjadi medium komunikasi tentang produk-produk kulit hasil kreativitas bangsa indonesia. “Leather Speak”, menjadi judul utama sebuah “photo story” yang mengusung rangkaian cerita program “Gelar Kriya Kulit Jabar” tersebut. Harapannya foto-foto ini dapat memaparkan tentang isu pemanfaatan kulit & sosialisasinya kepada masyarakat agar bangsa kita sadar bahwa sebenarnya kita mampu menciptakan sesuatu dengan sumber daya alam yang kita miliki sekarang. Ketika fotografi mampu mengungkapkan pesan dari sebuah isu, alangkah lebih baiknya masyarakat kita mampu mencerna rekaman imaji-imaji tersebut agar kita selalu diberikan kesadaran untuk melakukan perubahan. Salam. Fotografi bergerak!!!

Try to find the meaning (c) galih sedayu

just for feet (c) galih sedayu

little modern cowboy (c) galih sedayu

4 blind leather (c) galih sedayu

feel the leather fest (c) galih sedayu

invisible conversation (c) galih sedayu

alone and proud (c) galih sedayu

a view of tegep boots (c) galih sedayu

ganiyati rocks (c) galih sedayu

bring the noise (c) galih sedayu

I had one in my pocket (c) galih sedayu

Istiono…a police leader

Mr Istiono (c) galih sedayu

Mr Istiono is one of my best friend. He is very simple, friendly and also good in playing drums. He dedicate his life to become a indonesian police.

Nurul…a fashion photographer

Nurul (c) galih sedayu

Nurul is a professional photographer. She came from bandung and make a living in jakarta. Her passion in photography is fashion mostly. She is very friendly and have a warm conversation.

Mukti Mukti…a street guitarist

Mukti Mukti (c) galih sedayu

Mukti Mukti. A singer, an artist & an activist. Living in bandung and always become a phenomenon in every performing. He didn’t look his age although almost (maybe) 50 years old.

Artikel Sejarah Singkat Awal Kehadiran Fotografi Di Indonesia

Sebuah Cara Lain Merebut Ruang Kota

SEBUAH CARA LAIN MEREBUT RUANG KOTA

oleh galih sedayu

Melihat perkembangan sebuah kota erat kaitannya dengan melihat keberadaan dan pemanfaatan ruang publik yang dimiliki oleh kota itu sendiri. Kota bandung yang berdiri sejak tahun 1810 yang lampau banyak sekali menyisakan ruang publik yang belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pemerintahnya. Tentunya isu ini menjadi sebuah pekerjaan rumah bersama bagi kita semua yang menyandang predikat sebagai warga kota bandung. Adalah Bandung Creative City Forum (BCCF) yang mencoba menghadirkan sebuah program yang bernama Semarak.Bdg dengan tujuan untuk mengintervensi ruang publik kota bandung. Intervensi ini dilakukan melalui cara-cara kreativitas yang melibatkan komunitas kreatif, masyarakat, pemerintah, swasta & media sebagai stakeholder dan komponen masyarakat utama sebuah kota. Rangkaian program kreatif yang mengisi kegiatan Semarak.Bdg tersebut diantaranya yaitu Facade Lighting Gedung Merdeka berupa pemasangan instalasi lampu warna-warni pada Gedung Merdeka dengan tujuan agar Gedung Merdeka tidak lagi kelihatan suram, gelap dan terkesan dihindari oleh warganya terutama pada malam hari. Lalu ada program Piknik.Bdg berupa memindahkan ruang bermain dan kreatif anak di sekitar sungai cikapundung agar anak-anak dan keluarga tidak hanya merasakan pengalaman beraktivitas di mal atau tempat bermain indoor serta dapat merespon sungai cikapundung yang telah lama ada bersama kita. Dan kemudian ada program Bragakeun Bragaku yang mecoba untuk mengolah braga menjadi wadah energi kreatif dari sekumpulan komunitas dan warga masyarakat braga itu sendiri.

Sebagian peristiwa nyata yang terjadi pada rangkaian Semarak.Bdg tersebut saya coba refleksikan kembali lewat citra fotografi sebagai penanda visual dan jejak kerja hasil kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, swasta, media & komunitas sebagai aset berharga kota. Sekelumit kisah dan romantika kejadian dalam Semarak.Bdg melalui rangkaian karya foto. Meski saya sadar sepenuhnya bahwa tidak semua momen yang ada dapot terekam oleh lensa kamera, tetapi setidaknya fotografi telah membekukan dan menjadi saksi bisu atas segala upaya yang telah dikerjakan oleh sekelompok muda kreatif yang peduli akan kota bandung. Dengan harapan bahwa secuil ide kreatif tentang intervensi ruang kota ini dapat menggelitik yang lain agar dapat berbuat serupa bahkan mungkin lebih baik. Karenanya lupakanlah kata siapa yang melakukan ini melainkan mulailah dengan kata apa yang dapat kita lakukan untuk kota ini. Agar Kota Bandung menjadi ada, tetap ada dan selalu ada bagi kita selamanya.

Fotografi bergerak!!

photo story of semarak.bdg by galih sedayu

“for the good of our city” (c) galih sedayu

“Education Trial” (c) galih sedayu

“City Space for Kids” (c) galih sedayu

“Colouring Cikapundung Atmosphere” (c) galih sedayu

“The parents do care, Kids don’t care” (c) galih sedayu

“City save our children” (c) galih sedayu

“Faces of youth” (c) galih sedayu

“Make a living” (c) galih sedayu

“Hope for the city” (c) galih sedayu

“We build this city with light of spirit” (c) galih sedayu

“Man Jasad with his American Snake” (c) galih sedayu

“Let’s make the city” (c) galih sedayu

JAZZ & PENCITRAAN

Chet Buker (c) William Claxton

JAZZ & PENCITRAAN

Oleh Galih Sedayu

Membaca sejarah kehadiran musik jazz di dunia, tentunya seperti mendengar berbagai penggal cerita yang agak sulit bagi kita untuk mengetahui mana cerita yang sebenarnya. Karena banyak sekali sekelumit kisah tentang awal musik jazz. Salah satunya adalah Buddy Bolden. Seorang pemilik kedai cukur rambut di New Orleans, dapat dikaitkan dengan sejarah keberadaan musik jazz di dunia. Dimana sekitar tahun 1891, salah satu orang yang dipercaya sebagai legenda jazz ini meniupkan cornet-nya (sejenis alat musik tiup mirip terompet) sebagai pertanda dikumandangkannya musik jazz ke seluruh antero jagat. Meskipun sejarah mengatakan bahwa latar belakang kehadiran musik jazz sedikit banyak dipengaruhi berbagai musik seperti musik spiritual, cakewalks, ragtime dan blues. Musik jazz pun menjadi semakin menarik karena beberapa sejarah mengatakan bahwa asal kata “jazz” berawal dari sebuah istilah vulgar yang berkaitan dengan aksi seksual. Sebagian irama musik jazz pun identik dengan rumah-rumah bordil dengan para wanita penghuninya.

Fotografi yang dilahirkan ke jagat raya sejak tahun 1839 oleh Louis Jacques Mande Daguerre, setidaknya dapat menaruh harapan khususnya pada catatan perkembangan sejarah musik jazz itu sendiri. Setidaknya sebagai catatan visual dan media informasi yang gampang dicerna bagi komunitas jazz. Misalnya saja sebagai bahan untuk melacak citra foto pertama tentang jazz di dunia. Memang sulit untuk mengatakan karya foto mana yang menjadi citra pertama di dalam dunia musik jazz. Tetapi bukan tidak mungkin bahwa kita dapat melacaknya dari karya-karya foto para fotografer jazz dunia semisal William Gottlieb yang mulai memotret musisi jazz ternama seperti Duke Ellington, Louis Armstrong, Frank Sinatra, Dizzy Gillespie dan Billie Holiday sejak tahun 1938. Lalu ada nama Herman Leonard yang banyak memotret tokoh-tokoh jazz seperti Charlie Parker, Sarah Vaughan, Lena Horne, Thelonius dari tahun 1940. Atau William Claxton yang mulai berkarya merekam aksi para musisi jazz legendaris seperti Chet Baker, Miles Davis, Nat King Cole, Joe Williams, Dinah Washington sejak tahun 1950. Tentunya dibutuhkan penelitian yang serius untuk melacak sejarah tersebut.

Barangkali dengan paparan itu pula ada sebuah gagasan untuk mencatat perkembangan sejarah musik jazz di indonesia. Dimana fotografi dapat menjadi sebuah medium untuk menghadirkan kembali citra tentang romantika dan perjalanan musik jazz. Seperti yang disuguhkan oleh Mia Damayanti Sjahir dalam Pameran Fotonya yang bertajuk Jazz – Poster & Post It di Potluck Coffee Bar & Library dari tanggal 11 Juli 2010 s/d 7 Agustus 2010. Pameran foto ini dikuratori oleh Dwi Cahya Yuniman, seorang pendiri klab jazz plus aktivitis jazz asal Kota Bandung. Uniknya, foto-foto yang dipamerkan tersebut tidak hanya mengisi tembok-tembok kosong yang disoroti lampu belaka. Melainkan ada beberapa foto yang sengaja ditampilkan untuk mengisi dan menjadi bagian estetika perabotan di tempat pameran itu digelar. Toples, bingkai kecil di rak buku, tempat cashier, dan sebagainya menjadi aksen bagi keutuhan pameran tersebut. Tentunya kita semua berharap bahwa pada suatu saat nanti, karya-karya foto tentang jazz ini dapat menjadi sebuah buku yang dapat meninggalkan jejak karya dan dapat dibagikan bagi masyarakat agar peradaban musik jazz terus mengalir seiring dengan dunia yang terus berputar tanpa henti.

Fotografi bergerak!!

www.galihsedayu.com

Tulisan ini diberikan pada acara diskusi kecil bersama Syaharani (Musisi Jazz), Dwi Cahya Yuniman (Klab Jazz) dan Mia Damayanti Sjahir pada tanggal 12 Juli 2010 yang merupakan rangkaian Pameran Foto “Jazz-Poster and Post It” karya Mia Damayanti Sjahir yang diadakan oleh Klab Jazz pada tanggal 11 Juli 2010 s/d 7 Agustus 2010 di Potluck Coffee Bar & Library.

Looking for an Identity (Photo Story about Batik)

Mencari sebuah identitas

Dengan masuknya batik Indonesia dalam Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diumumkan dalam siaran pers di portal UNESCO pada 30 September 2009 lalu merupakan salah satu prestasi yang patut kita banggakan. Batik pun menjadi bagian dari 76 seni dan tradisi dari 27 negara yang diakui UNESCO dalam daftar warisan budaya tak benda melalui keputusan komite 24 negara yang pada saat itu tengah bersidang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Oleh karena itu, sudah layak dan sepantasnyalah isu-isu yang mencuatkan tentang keberadaan Batik sebagai warisan bangsa perlu terus dikumandangkan oleh kita yang mengaku sebagai keturunan Bangsa Indonesia. Tentunya dengan cara apapun semisal fotografi dengan segala keunikannya yang hendak saya suguhkan kali ini. “Looking for an Identity” adalah sebuah Photo Story yang mengangkat isu batik dengan sebuah pertanyaan besar untuk kita semua tentang kepedulian kita terhadap warisan budaya tersebut. Meski saya sadar benar bahwa tidak ada jawaban yang mutlak untuk segala pertanyaan tersebut, tetapi setidaknya saya mencoba untuk bertutur secara visual dalam perspektif fotografi. Dimana opini selanjutnya sangat bebas tergantung pada siapapun yang melihat karya foto ini. Photo Story ini saya buat pada helaran Gelar Batik Jawa Barat di Gedung Sate Bandung yang berlangsung pada tanggal 3 – 4 Juli 2010. Semoga Photo Story ini dapat menginspirasi anak bangsa untuk dapat terus berkreasi dan peduli pada batik yang seyogyanya menjadi aset bangsa.

Galih Sedayu (www.galihsedayu.com)

“Maybe he didn’t care” (c) galih sedayu

“Dress of Harmony” (c) galih sedayu

“Not only for Body” (c) galih sedayu

“Old Tradition Never Die” (c) galih sedayu

“Try to feel comfort” (c) galih sedayu

“Still Got the Style” (c) galih sedayu

“Education with Music” (c) galih sedayu

“Mickey Bat” (c) galih sedayu

“A Little Fashion” (c) galih sedayu

“A Little Hand of Creativity” (c) galih sedayu

“Metamorph” (c) galih sedayu

“There is a Hope” (c) galih sedayu