I'LL FOLLOW THE SUN

kandang galih sedayu

SEBUAH TITIAN DI DALAM HUTAN KOTA DAN CERITANYA

with 3 comments

Oleh galih sedayu

Delonix Regia. Ia hanyalah salah satu dari sekian banyak pohon penghuni abadi hutan kota Babakan Siliwangi yang diwariskan oleh bumi sejak sekian lama, demi menyediakan oksigen kehidupan bagi warga Kota Bandung. Nama Pohon “Regia” atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Pohon Flamboyan ini akhirnya dicetuskan menjadi sebuah nama kegiatan aktivasi ruang publik di hutan kota tersebut yang diusung oleh Bandung Creative City Forum (BCCF), sebuah perkumpulan komunitas kreatif yang berdiri sejak tahun 2008 di kota Paris Van Java ini. Program “Regia” yang mengambil tema ‘Story of the City Forest‘ tersebut digelar selama dua hari berturut-turut dari tanggal 20-21 April 2013 dan berpusat di area jembatan hutan kota Babakan Siliwangi, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Forest Walk. Mengapa mesti di tempat ini? Sejarah Kota Bandung mencatat bahwa pada tanggal 27 September 2011, hutan kota Babakan Siliwangi dideklarasikan menjadi hutan kota dunia atau World City Forest oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tepatnya melalui United Nations Environment Programme (UNEP). Pada saat bersamaan, jembatan di tengah hutan kota ini pun selesai dibangun dan diresmikan secara bersama-sama yang disaksikan oleh sekitar 1500 anak dan pemuda dari 111 negara di seluruh dunia. Mereka hadir pada saat konferensi TUNZA International Children and Youth Conference on Environment di Sabuga Bandung.

Jejak fisik berupa jembatan sederhana di hutan kota inilah yang sesungguhnya dapat menjadi simbol tempat berkumpulnya warga Kota Bandung untuk lebih dekat dengan alamnya. Agar kita dapat menyentuh pohon-pohon dan merasakan sentuhan dedaunan di tangan kita. Agar kita dapat melihat burung-burung yang bertengger di sana dengan kicaunya yang menawan hati. Agar kita sadar bahwa hutan kota ini dapat membawa ketenangan dan mengistirahatkan diri sejenak dari hingar bingar serta polusi Kota Bandung. Dan yang paling penting ialah bahwa di sanalah sesungguhnya suara warga Kota Bandung menjadi satu, yakni dengan tegas menolak pembangunan atau alih fungsi lahan hutan untuk dijadikan ruang komersil oleh pihak-pihak yang mendewakan uang dan kepentingan duniawi.

Karena salah satu ciri khas Kota Bandung adalah kolaborasi yang dihadirkan oleh warganya, maka tak heran sejumlah komunitas dan jejaring kreatif pun turut mengambil peran dengan bersinergi secara aktif untuk memanfaatkan dan mengaktifkan hutan kota dunia Babakan Siliwangi. Dari mulai aktivitas Pameran Foto yang dikelola oleh air foto network, kampanye baksil (save babakan siliwangi dan coin for babakan siliwangi) oleh Komunitas Lebak Siliwangi dan Greeneration Indonesia, jamuan makan malam di tengah hutan (Forest Dining) yang dipersembahkan oleh Cafe Halaman, Instalasi lampu dan permainan laser sederhana (Light Installation), Lapak Ayo Main bersama Komunitas Hong, kegiatan senam yoga yang diinisiasi oleh Yoga Leaf, workshop anak-anak bersama Sahabat Kota, musik akustik yang dilantunkan oleh Kang Ganjar Noor, lagu-lagu perihal hutan gubahan anak-anak sekolah semi palar, piknik dan botram (Alfresco) yang diusung oleh Agritektur, Infografik bertajuk “ Mengapa Kita Harus Menyelamatkan Babakan Siliwangi” yang dibuat oleh Batasfana, Tisna Sanjaya dengan petuah bijak serta sentuhan kuasnya, Wawan Husin dengan Story Telling nya yang apik, Jorowok Bandung dengan menghadirkan Bpk. T.Bachtiar yang berbicara tentang hutan kota. serta Blues Leuweung yakni pertunjukkan musik blues di Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi yang dimeriahkan oleh para sahabat Bandung Blues Society (BBS). Bayangkanlah energi bandung yang hadir di sana.

Bila kita berbicara perihal hutan kota dunia Babakan Siliwangi, beberapa fakta pun hadir secara nyata di sana. Di masa lalu, terdapat dua belas mata air di kawasan hutan kota dunia Babakan Siliwangi, dimana kini hanya tersisa satu mata air saja. Di kawasan hutan kota ini terjadi pula penurunan permukaaan air tanah, dari 22,99 meter menjadi 14,35 meter (data tahun 1999). Bila lahan hutan kota ini menghilang, akan menyebabkan semakin menurunnya permukaan air tanah karena berkurangnya lahan resapan. Fakta yang lain berbicara bahwasanya hutan kota dunia Babakan Siliwangi merupakan habitat bagi 120 jenis tumbuhan dan 149 jenis hewan serta merupakan tempat singgah bagi enam jenis burung migrasi. Bila kawasan hutan kota ini menghilang, maka jalur migrasi burung-burung ini akan terpotong. Pepohonan yang tumbuh di kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi antara lain adalah Pohon Cola (Cola nitida) dan Pohon Sempur (Dillenia Indica L.), dan Pohon Flamboyan (Delonix Regia) yang paling dominan tumbuh di sana. Tumbuhan yang ada di kawasan hutan kota ini berfungsi sebagai penyaring polusi dan suara. Siapa pun warga yang berada di tengah hutan kota ini, dapat merasakan ketenangan, meskipun jaraknya sangat dekat ke jalan raya yang ramai. Luas kanopi dari pepohonan yang tumbuh di lahan hutan kota ini mencapai hingga 5 Hektar, sementara luas dari Babakan Siliwangi adalah 3,8 Hektar. Tutupan kanopi ini merupakan peneduh, dan sebenarnya dapat menjadi pengurang stress pada manusia yang berada di sekitarnya, karena pepohonan ini menghasilkan udara yang kaya dengan oksigen. Fungsi pepohonan di hutan kota dunia Babakan Siliwangi adalah sebagai penyerap CO2 terhitung hingga 13.680 Kg per hari, sementara melepaskan pula O2 sebesar 9.120 Kg per harinya. Bila harga O2 murni mencapai Rp.25.000,- per liter, maka nilai ekonomis dari hutan kota dunia Babakan Siliwangi mencapai Rp.148.000.000,-. Dari perhitungan ini, dapat diperkirakan bahwa bila kawasan hutan kota dunia Babakan Siliwangi berkurang bahkan hingga 20%-nya saja, maka kerugian Kota Bandung dapat mencapai 10 Milyar Rupiah. Namun demikian, fakta penting yang memiliki nilai bagi Kota Bandung sesungguhnya adalah bagaimana sebenarnya hutan kota dunia Babakan Siliwangi ini menjadi sebuah tempat untuk membangun hubungan manusia dengan alam seutuhnya.

Maka dari itu sudah sepatutnya warga Kota Bandung mengucap syukur atas pemberian Sang Semesta dengan sekian banyak kelimpahan yang dimiliki oleh hutan kota dunia Babakan Siliwangi. Karenanya kabarkanlah keselamatan hutan kota ini dari hari ke hari, ceritakanlah kemuliannya kepada semua orang dan bersatulah untuk terus menjaganya dari keserakahan para penguasa yang bodoh. Sebab keagungan dan semarak selalu ada di dalamnya. Sebab kekuatan dan kehormatan ada di tempatnya yang tersembunyi. Sebab anak cucu kita perlu diajari dan merasakan rindangnya hutan. Dan hanya satu kata yang dapat kita ucapkan dengan lantang kepada orang-orang yang ingin merusak hutan kota dunia Babakan Siliwangi. LAWAN!!!

“There is unrest in the forest,

There is trouble with the trees,

For the maples want more sunlight,

And the oaks ignore their pleas.”

- Rush, ‘The Trees’

@galihsedayu | Bandung 21 April 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu***

galih sedayu

galih sedayu***

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2013 by galih sedayu
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer. *** 2 pictures are taken by Pam Ardinugroho

Written by Admin

April 23, 2013 at 6:53 am

DEMONSTRASI HENING PARA PENGAWAL HUTAN

with 3 comments

Oleh galih sedayu

Hutan Kota Babakan Siliwangi adalah salah satu kawasan ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Bandung, sebuah kota yang dihuni lebih dari 2,5 juta penduduk. Karena di hutan yang berbentuk tapal kuda inilah 48 jenis pohon dan 24 jenis burung hidup dalam damai di sebuah lahan hijau seluas 3,8 hektar. Dalam sehari hutan yang dulunya dikenal dengan sebutan Lebak Gede ini mampu menghadirkan oksigen bagi 15.600 jiwa, sehingga ruang publik ini menjadi paru-paru Kota Bandung yang menjaga kualitas udara bagi kehidupan para warganya. Hutan inipun merupakan daerah luahan air (discharge) dan masih menyisakan satu mata air yang masih berfungsi di tebing sebelah timur laut. Bahkan pada tanggal 27 September 2011, Hutan Babakan Siliwangi ini ditahbiskan sebagai World City Forest atau Hutan Kota Dunia oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui United Nations Environment Programme (UNEP).

Namun sejak tahun 2007 Pemkot Bandung telah memberikan izin pengelolaan lahan hutan kota tersebut selama 20 tahun kepada PT Esa Gemilang Indah (EGI). Padahal sebagaimana amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, Pemerintah Kota Bandung seharusnya menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik minimal 30% dari seluruh wilayahnya. Namun demikian, Kota Bandung yang luasnya sekitar 17.000 hektar ini baru memenuhi sekitar 7% RTH. Di kawasan hutan inilah, PT EGI berencana akan membangun rumah makan di bekas lokasi rumah makan yang dulu terbakar.

Atas kejadian inilah akhirnya timbul gerakan kolektif dan upaya-upaya bersama dari warga Kota Bandung demi mempertahankan kelestarian hutan kota Babakan Siliwangi. Hutan ini menjadi ruang publik yang kerap diaktivasi oleh berbagai komunitas Kota Bandung sebagai penanda kecintaan warga. Sejarah pun mencatat nama-nama komunitas yang turut peduli terhadap kelangsungan hutan kota ini baik yang sifatnya bersimpati maupun berempati. Dari mulai Forum Warga Peduli Babakan Siliwangi, Sanggar Olah Seni (SOS) Babakan Siliwangi, Himpunan Peternak Domba dan Kambing (HPKD) Bandung, Lebak Siliwangi, Walhi Jabar, Bandung Inisiatip, Hayu Ulin di Baksil (HUB), Greeneration ID, Forum Hijau Bandung, Bandung Creative City Forum (BCCF), Grow Box, Sunday Smile Picnic, dan masih banyak lagi.

Jelang Pemilihan Walikota Bandung tahun 2013 ini, isu alih fungsi lahan hutan kota Babakan Siliwangi ini kembali memanas. Bahkan kemudian area sekeliling Hutan Kota ini dipagari dengan seng berwarna hijau seperti kemah kediaman para penebang hutan. Rupanya para pengawal hutan kota ini tak lantas berdiam diri saja. Pagar-pagar seng yang menutup serta menghalangi sejauh mata memandang ke arah dalam hutan pun dilukis melalui sentuhan kuas dan jemari dari sekelompok warga dan anak-anak muda Kota Bandung. Inilah uniknya Bandung. Bahkan dalam kemarahan, protes dan perlawanan pun, karya mereka masih menyeruakkan estetika keindahan yang melekat di dalamnya. Dalam himpunan visual mural itulah kita dapat melihat rasa marah, tangisan, kutukan yang justru kadang membuat kita tertawa. Tertawa dalam kesadaran bahwa suara mereka sesungguhnya benar adanya. Karenanya, diberkatilah para pengawal hutan kota Babakan Siliwangi. Yang menaruh harapan pada alam dan semesta. Yang melawan dengan cara apapun meski keliatan konyol. Mimpi mereka semua sama. Pohon-pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke dalam tanah, yang memberikan nafas dan nyawa bagi flora dan fauna, yang mewartakan cinta bagi kotanya. Bagi mereka hutan adalah tahta kemuliaan, luhur dari sejak semula dan tempat bait kudus bagi warga sebuah kota.

By the sacred grove, where the waters flow

We will come and go, in the forest

In the summer rain, we will meet again

We will come and go, in the forest

By the waterfall, I will hold you in my arms

We will meet again by the leafy glade

In the shade of the forest

With your long robes on, we will surely roam

By the ancient roads, I will take you home

To the forest.”

- Van Morrison, In the forest

@galihsedayu | Bandung 10 April 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2013 by galih sedayu
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

April 15, 2013 at 5:10 pm

KIDUNG KASIH KAMPUNG CICADAS

leave a comment »

Oleh galih sedayu

Akar sebuah kota adalah kampung-kampung yang bermukim di sana. Meski ironisnya keberadaan kampung ini menjadi kering terbengkalai akibat ambisi pemerintah yang kerap membangun di pusat kota dengan mengatasnamakan kemajuan. Padahal sesungguhnya, di kampung-kampung inilah pusat energi sebuah kota menyeruak hadir demi menopang tubuh kota yang dulunya lemas tak berdaya. Kampung Akustik Cicadas adalah salah satu contoh akar kota yang memiliki energi ini. Kerap mendapat julukan kampung preman, kampung kumuh, kampung tawuran dan berbagai citra negatif lainnya…tidak lah membuat para pemuda kampung cicadas ini menyerah. Mereka terus menyuarakan semangat perubahan demi Kampung Cicadas yang lebih bermartabat. Nama-nama seperti Kang Guntur, Kang Ganjar Noor, dan Kang Rahmat Jabaril pun tercatat dalam noktah sejarah Kampung Cicadas yang mewakili para pemudanya. Meski berjuang di atas kursi rodanya, Kang Guntur tak pernah kehilangan asa untuk menyebarkan virus-virus kreatif di kampungnya. Lewat sentuhan jemari tangannya, kuas lukis pun menjadikan karya mural bertema musik di dinding-dinding gang Kampung Cicadas. Kang Ganjar Noor pun punya cara lain untuk menyampaikan pesan bagi kampungnya. Lewat alunan merdu gitar dan suaranya yang nyaring, Kang Ganjar Noor terus mengumandangkan tentang pentingnya mencintai kampung dan membuat sebuah perubahan berarti meski melalui langkah kecil. Belum lagi ide, pikiran dan kreativitas yang dipersembahkan oleh Kang Rahmat Jabaril bagi Kampung Cicadas ini. Dari mulai membuat advokasi, sarasehan ataupun sekedar mendengar curhat warga dilakoni oleh Kang Rahmat Jabaril demi menstimulan kekuatan Kampung Cicadas tersebut. Lambat laun kini Kampung Cicadas mulai menunjukkan sayapnya untuk terbang menuju citra yang lebih baik. Para preman di kampung ini sekarang mulai aktif mencipta lagu, bermain musik dan bahkan membuat kerajinan gitar. Tembok-tembok yang mengapit gang di Kampung Cicadas ini mulai berwarna dengan mural-muralnya yang kreatif. Saat ini Kampung Cicadas berharap dapat membangun sebuah studio musik untuk ajang latihan bagi para musisi kampung yang ingin tampil. Lewat sepenggal lagu yang diciptakan oleh Kang Ganjar Noor inilah semestinya kita bercermin. Bahwa pada kampung seperti Kampung Cicadas lah sesungguhnya kita tak boleh henti berharap. Demi sebuah Kota Bandung yang berdiri tegak hingga akhir masa.

Kembalilah Kampungku

Kampung, kampung…tempat bernaung
Ruang bercengkrama urai cerita
Melukis harapan di hampar tanah-tanah
Membakar semangat di jiwa merdeka

Kampung, kampung…terjamah kota
Kota, kota, kota, kota ubah cerita
Dimana persoalan menghempas kerinduan
Menncakar keheningan mengundang keriuhan

Apa yang tersisa selain rasa cinta
Pada kampung yang tlah tiada
Pada tanah, pada air, pada cerita
Apa yang tersisa selain kerinduan
Pada kampung yang kini kota
Berharap kampung-kampung masih ada
Tetap ada walau di tengah bising kota…

Pada jiwa semangat menyala
Bangun kampung-kampung cerita baru
Menghias tanah-tanah, mengukir dinding-dinding
Menggambar atap-atap, merubah kehidupan.

- Ganjar Noor - 

@galihsedayu | Bandung 13 Oktober 2012

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2012 by galih sedayu
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 31, 2013 at 2:12 pm

PERTARUNGAN ABADI DI BALIK PEMENTASAN TARI BARONG

leave a comment »

Oleh galih sedayu

Kebudayaan Pra Hindu di Bali tentunya banyak mewariskan kekayaannya yang unik. Salah satunya adalah Tari Barong. Barong sendiri adalah sebuah karakter dalam mitologi negeri Pulau Dewata yang merupakan perwujudan raja dari roh-roh yang melambangkan sifat-sifat kebajikan (Dharma). Sebagai roh pelindung, Barong sering ditampilkan dalam wujud seekor singa. Ibarat seorang tokoh pahlawan dalam sebuah film, tentunya ia pun memiliki seorang musuh. Lawan abadi Barong adalah Rangda yang mewakili sifat-sifat kebathilan (Adharma). Dengan diiringi oleh musik Gamelan Semar Pagulingan, kita bisa menikmati drama 5 babak pementasan Tari Barong yang sarat dengan nilai cerita perkelahian abadi antara kebaikan dan kejahatan di dunia disertai guyonan yang membawa gelak tawa keceriaan. Hanya saja kali ini cuplikan fotografis yang saya rekam, bukan menangkap adegan-adegan di depan panggung pada umumnya, melainkan dari sisi lain yakni di belakang panggung yang barangkali masih belum banyak orang yang melihatnya. Karena menurut saya di sanalah sesungguhnya pertempuran yang abadi itu benar-benar terjadi. Dimana para pemain pementasan Tari Barong tersebut berjuang untuk tetap hidup demi sesuap nasi dan demi menafkahi para keluarga yang dicintainya. 

@galihsedayu | Bali 10 Maret 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2013 by galih sedayu
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 24, 2013 at 4:29 pm

KEMBALI CINTA DI PANTAI VIRGIN

leave a comment »

Oleh galih sedayu

In every outthrust headland, in every curving beach, in every grain of sand, there is the story of the earth” – Rachel Carson

Hampir setiap orang menyukai pantai. Karena di sanalah kita dapat melihat, mendengar dan merasakan berbagai keajaiban planet bumi. Mulai dari deburan ombak laut yang menderu jantung, semilir angin yang menyibakkan rambut, hingga pasir pantai yang menggelitik kaki. Pantai bisa menjadi sebuah ruang bagi kita untuk menenangkan diri, memutar otak demi secercah ide segar bahkan menyembuhkan. Dan di pantai-pantai itulah seluruh hati manusia berkumpul dalam balutan kedamaian dan penuh syukur.

Bali dengan julukan Pulau Dewata nya merupakan surga bagi terciptanya pantai-pantai yang indah nan menawan hati. Hanya saja, saat ini tidak semua pantai di Bali memiliki citra yang bersih dan tenang. Meski demikian selalu saja muncul pantai-pantai baru yang masih belum banyak terjamah oleh manusia. Pantai Virgin (Virgin Beach) adalah salah satunya. Sebenarnya pantai ini bernama Pantai Perasi, karena letaknya di Desa Perasi, Kabupaten Karangasem, Bali. Namun entah kenapa para wisatawan mancanegara lebih suka menyebutnya dengan nama Virgin Beach atau White Sand Beach. Untuk menggapai lokasi pantai ini, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari kawasan Candidasa di Karangasem. Setelah itu kita mesti menempuh jarak sekitar 100 meter dari jalan aspal dengan kondisi jalan yang cukup terjal. Pantai virgin ini diapit oleh dua buah tebing yakni Bukit Bugbug dan Bukit Perasi yang seolah-olah menjadi pengawal abadi yang melindungi kesucian Pantai Virgin.Tubuh fisik pantai ini sangatlah bersih dari sampah & masih tergolong sepi dari kunjungan manusia. Maka tak heran apabila Pantai Virgin ini mendapat predikat sebagai salah satu pantai terbaik yang pernah ada di Pulau Dewata.

Sebagai pengantar himpunan cuplikan hening perihal Pantai Virgin, demikianlah puisi ini saya buat.

*Teruntuk istriku tercinta Christine Listya Sedayu dan kedua putriku tersayang Eufrasia Tara Sedayu & Ancilla Trima Sedayu (Alm)

Tak ada lagi duka & benci
Tak ada lagi luka & sepi
Tatkala tubuh ini dibawa
Menuju pantai yang menghibur hati

Mendung mulai memanggil
Gerimis pun hadir perlahan
Hingga hujan yang terlepas bebas
Namun hati ini bahagia

Di pantai ini
Kita membuang pahit
Di pantai ini
Kita menyimpan manis

Atas nama cinta kita percaya dan selalu bersama 

@galihsedayu | Bali 15 Maret 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2013 by galih sedayu
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 19, 2013 at 1:50 pm

MENYAMBUT SANG NAGA (LIONG) & SANG SINGA (BARONGSAI)

leave a comment »

Oleh galih sedayu

Kebebasan Perayaan Cap Go Meh bagi kaum Tionghoa di Indonesia tentunya tidak bisa lepas atas jasa besar seorang tokoh pembela kaum minoritas yang bernama Gus Dur. Semasa Gus Dur menjadi presiden, ia membuat gebrakan baru yakni secara tegas mencabut Inpres No. 14 tahun 1967 yang isinya memenjarakan kebebasan warga Tionghoa untuk merayakan kegiatan budayanya secara terbuka termasuk Imlek & Cap Go Meh. Gus Dur pun lalu mengganti Inpres tersebut dengan alasan bertentangan dengan UUD 1945 dan kemudian ia menerbitkan Keppres No. 6 tahun 2000 yang isinya menjamin kemerdekaan warga Tionghoa agar dapat menjalankan kegiatan keagamaan, kepercayaan & adat istiadatnya secara terbuka. Bahkan pada tahun 2001, Gus Dur menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional. Sejak saat itulah hingga saat ini warga Tionghoa di Indonesia dapat menghadirkan perayaan Cap Go Meh sekaligus menghibur sejumlah warga di sebuah kota termasuk Kota Bandung.

Cap Go Meh sendiri merupakan sebuah upacara yang dirayakan secara rutin setiap tahunnya pada tanggal 15 bulan pertama menurut penanggalan bulan yang merupakan bulan pertama dalam setahun oleh warga Tionghoa. Upacara ini dilakukan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai-yi yakni Dewa tertinggi di langit menurut Dinasti Han (206 SM – 221 M). Istilah Cap Go Meh (Cap = sepuluh ; Go = lima ; Meh = malam) sebenarnya berasal dari dialek Hokkien yang memiliki makna 15 hari atau malam setelah Imlek. Oleh karena itu Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas dan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi warga Tionghoa. Dahulu kala Cap Go Meh merupakan sebuah upacara tertutup yang hanya ditujukan bagi kalangan istana kerajaan China. Dalam perayaan Cap Go Meh tersebut, ikon sentralnya selalu identik dengan Liong (Naga) & Barongsai (Singa) yang menghibur warga dengan gerak tariannya.

Di Kota Bandung, kirab Cap Go Meh tahun 2013 ini dimulai dari Vihara Dharma Ramsi di Jalan Cibadak. Kemudian berkeliling melewati Jalan Astanaanyar, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Kelenteng, Pascal Hyper Square, Jalan Gardujati, lalu kembali ke Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Oto Iskandardinata, serta kemudian berakhir & kembali di Vihara Dharma Ramsi. Kirab Cap Go Meh ini diikuti oleh ribuan orang dan puluhan vihara dari berbagai kota selain Bandung seperti Jakarta, Banten, Bogor, Tegal, Ciamis, Tasikmalaya, dan lain sebagainya. Di sanalah warga Kota Bandung dapat melihat rombongan Liong & Barongsai mengiringi tiga patung yakni Patung Ma Kwan Im Pho Sat (Dewi Kasih Sayang), Hok Tek Ceng Sin (Dewa Rejeki) dan Hian Thian Siang Tee (Panglima Perang) yang diarak dengan menggunakan tandu. Sementara itu Liong (naga) menari dengan berliuk-liuk sambil mengejar bola api di depannya. Tak mau kalah para Barongsai pun berdansa dengan lincahnya sambil diiringi musik para pemain tambur, simbal & ling (bendi). Setelah tarian selesai, warga Tionghoa yang menyaksikan atraksi tersebut baik dari sisi jalan maupun depan rumah atau toko milik mereka pun berbondong-bondong memberikan angpau dalam sebuah amplop yang dimasukkan melalui mulut Liong & Barongsai tersebut sebagai simbol ucapan terima kasih.

Kita dapat menyaksikan di sana, bagaimana warga Tionghoa sungguh berbaur dengan warga dari berbagai suku bangsa yang ada di Kota Bandung. Tak sedikit para pemain Barongsai yang dilakoni oleh kaum pribumi. Lalu kesenian sunda yang diwakili oleh para pemain angklung & calung pun turut berkolaborasi pada kirab tersebut. Bahkan secara serentak musik & bunyi-bunyian yang dihantarkan pada kirab tersebut sepakat untuk berhenti sesaat manakala azan magrib berkumandang di Kota Bandung. Perbedaan budaya yang ada ternyata berujung menyatukan warga.

Untuk itulah kita seharusnya selalu berada di dalam simpul kebersamaan ini. Agar kemerdekaan & kebebasan yang diberikan bagi setiap warga dapat melahirkan tanggung-jawab sekaligus menjadi aksi solusi terhadap masalah sosial sebuah kota. Karena sesungguhnya kebebasan inilah yang memberi kita makanan pengertian dan memberi minum kebijaksanaan. Dan rasa takut akan sebuah perbedaan itulah yang semestinya harus kita singkirkan jauh-jauh. Bila kita mau mencari, dalam perbedaan lah warga mendapat kegembiraan dan puncak sukacita. Oleh karena itu, mulailah melayangkan pandangan kita ke dalam berbagai perbedaan. Perbedaan apapun itu entah budaya, agama, suku, adat istiadat, dan lain-lain. Kemudian wartakanlah semangat pluralisme, egaliter dan persaudaraan dalam perbedaan tersebut sebagai peringatan kebersamaan bagi setiap warga kota. 

@galihsedayu | Bandung 2 Maret 2013

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2013 by galih sedayu
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

March 3, 2013 at 5:43 pm

MENCARI SEMARAK DI TAMAN KOTA YANG MENGANGGUR

with one comment

Oleh galih sedayu

Dari sekitar 600 buah Taman yang ada di Kota Bandung, ternyata sebagian besar taman-taman tersebut masih banyak yang tidak terawat dan belum dikelola secara sungguh-sungguh khususnya oleh pemerintah. Padahal semestinya keberadaan taman kota tersebut merupakan salah satu simbol bagi tingkat kemajuan & kebahagiaan masyarakatnya. Karena sejatinya Taman Kota dapat menjadi sebuah ruang berbagi yang diharapkan mampu mengantarkan nilai-nilai dan energi positif bagi warganya. Warga Bandung tentunya akan selalu bersyukur bila kotanya memiliki taman-taman yang ditumbuhi oleh berbagai macam pohon hijau nan rindang, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya dan yang tidak layu daunnya. Taman-taman kota tentunya akan bergirang dan bersorak-sorai tatkala mereka merasakan sentuhan warganya yang bertandang setiap hari ke sana entah itu sekedar melepas penat, mencari oksigen baru ataupun bertamasya bersama keluarga. Tentunya kita tak boleh berdiam diri dalam harapan hampa untuk mengubah citra taman-taman kota yang kita miliki sekarang. Upaya-upaya aktivasi taman kota tersebut harus dimulai meski melalui tindakan kecil apapun bentuknya. Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh sebuah komunitas yang bernama Culindra. Tepatnya tanggal 15 Desember 2012, Komunitas Culindra bersama Bandung Creative City Forum (BCCF) mengadakan sebuah program yang bernama Par(k)tivity, yakni sebuah kegiatan yang pada intinya berupaya mengaktivasi taman kota dengan melibatkan komunitas. Dari mulai pembuatan lubang biopori, pasar barter, open mic, piknik, pertunjukkan musik taman hingga layar tancep dihadirkan oleh Komunitas Culindra di Taman Ganesha Bandung. Sentuhan kecil seperti inilah yang sebenarnya dapat terus dilakukan oleh warga Kota Bandung. Sehingga setiap warga yang menyambangi Taman Kota tersebut akan menjadi rumput abadi baginya dan semua semarak yang dilahirkan oleh warganya akan menjadi bunga yang mekar setiap waktu.

@galihsedayu | Bandung 15 Desember 2012

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

galih sedayu

Copyright (c) 2012 by galih sedayu
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

Written by Admin

January 15, 2013 at 2:58 pm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.